Nodeflux Puji Layanan Responsif GSD Alpha

nodeflux

Sentuhan manusia tetap dibutuhkan meskipun teknologi telah berkembang sedemikian pesatnya. Teknologi yang kerap dipandang kaku dalam proses mekanismenya, dalam beberapa keadaan terbantu karena keluwesan.

Hal inilah yang dirasakan oleh salah satu klien DTP, Nodeflux. Perusahaan yang didirikan oleh Meidy Fitranto dan Faris Rahman ini menjadi sorotan sebagai startup buatan anak bangsa yang kerap digandeng oleh Pemerintah Indonesia dan startup Indonesia lainnya.

Produk utama Nodeflux adalah platform komputasi terdistribusi (Distributed Computation Platform) yang bisa memberi semacam “otak” kepada berbagai perangkat elektronik seperti CCTV, webcam, ataupun gawai.

Secara gamblang, lingkup bisnis Nodeflux yang aktif sejak tahun 2016, berkonsentrasi pada kecerdasan buatan atau AI (artificial intelegent), khususnya solusi teknologi pengenalan wajah yang terpampang di CCTV dan terhubung dengan database Dukcapil.

Salah satu pengaplikasian teknologi startup ini adalah computer vision yang  membantu menghitung jumlah kendaraan  yang bisa dimanfaatkan untuk membuat laporan kepadatan lalu lintas yang sebelumnya masih menggunakan hitungan manual..

Nodeflux didirikan oleh Meidy Fitranto dan Faris Rahman sejak tahun 2016, sebelum memutuskan merintis Nodeflux keduanya sudah memiliki pekerjaan menjadi karyawan di sebuah perusahaan migas. Mereka memutuskan untuk keluar dari rutinitasnya sebagai karyawan, mengembangkan teknologi video yang mampu  melakukan sistem monitoring dengan  perangkat rekam.

Muhammad Zakky Irfansyah sebagai SLA Manager Nodeflux menjelaskan kedua founder awalnya mengembangkan big data platform dan memiliki impian bahwa Indonesia bisa memiliki teknologi canggih sekelas yang ada di luar negeri. “Dua founder kami memiliki mimpi, ingin Indonesia itu bisa memiliki teknologi canggih seperti yang ada di luar negeri. Dulu hanya lima orang yang bekerja dalam merintis Nodeflux, kini sudah 90 orang yang terlibat dalam perusahaan ini.” Jelas Zakky saat ditemui di kantor Nodeflux.

Zakky sebagai perwakilan Nodeflux mengambil layanan datacenter di GSD Alpha karena saat itu sedang ada promo imlek. Faktor promo dan harga tidak menjadi prioritas utama Zakky yang sempat mencari pembanding dari datacenter lainnya. GSD Alpha dipilih karena Service Level Agreement (SLA) mendekati 100 persen.

“Pertimbangan lain adalah birokrasi dan administrasi yang mudah tidak berbelit, kebetulan kami punya koneksi berbeda namun satu gedung dengan GSD Alpha. Kemudahan interkoneksi dengan server kami di DTP membantu Nodeflux dalam kegiatan bisnisnya,”tambah Zakky.

Kepuasannya mengambil layanan datacenter GSD Alpha juga dirasakan dengan angka SLA dan kepedulian terhadap pelanggan. Pengalaman saat memerlukan layanan restart server yang mudah dan cepat juga menjadi poin tambahan untuk DTP.

Kemudahan lainnya yang dirasakan dalam customer care DTP, Zakky mengaku layanan Whatsapp Center yang responsif dan interaktif. Konsisten memberikan informasi jika terjadi trouble atau downtime. Sehingga Nodeflux dapat memastikan pelanggannya dengan pasti jika ada informasi trouble. Zakky berharap DTP terus meningkatkan manage servicenya secara profesional dan konsisten, sehingga sebagai pelanggan merasakan kelebihan lainnya yang tidak dirasakan provider sejenis. (M/A)