Menautkan Koneksi Lewat Proyek VSAT Transmisi BTS Blankspot

Menyatukan kepingan-kepingan kesenjangan penyebaran informasi yang tercecer akan menjadi lebih mudah bila semua pihak menyadari bahwa ini adalah sebuah tugas yang harus diemban bersama dan dikerjakan secara simultan.

Mengusung program Nawacita ketiga-nya yaitu membangun dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, Pemerintah Republik Indonesia lewat Kementerian Komunikasi dan Telekonomunikasi (Kominfo) beserta  Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (BAKTI) tengah menargetkan pembangunan Stasiun Pemancar (Base Transceiver Station) di 5.000 titik kosong (blank spot) untuk memenuhi hak dasar masyarakat dan mengejar berbagai ketertinggalan.

Menarik untuk diketahui bahwa membangun BTS di daerah 3T tidaklah menguntungkan secara ekonomi. Namun hal ini mesti tetap dilakukan mengingat pembangunan ini adalah kewajiban dari pemerintah.

Dalam sebuah petikan wawancara, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo),  Rudiantara menegaskan, “bahwa Pembangunan BTS merupakan upaya Kemkominfo untuk membuat Indonesia merdeka, bebas berkomunikasi dari manapun. Pembangunan sarana telekomunikasi dan informatika di wilayah perbatasan diharapkan dapat memperkuat desa-desa dan daerah-daerah dalam kerangka negara persatuan.”

Dwi Tunggal Putra (DTP) mendapat kesempatan menjadi mitra BAKTI untuk mengerjakan proyek VSAT Transmisi BTS Blankspot. Site-site yang dikerjakan pun tersebar di daerah-daerah 3T (terdepan, terluar, dan terluar) provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, NTT, Maluku dan Papua.

Tercatat hingga 24 Januari 2018 BAKTI sebagai pelaksana program Universal Service Obligation (USO), BAKTI telah membangun 662 BTS di seluruh Indonesia dan akan lebih banyak lagi ke depannya demi mengentaskan wilayah-wilayah blankspot di Indonesia.

DTP saat ini berposisi sebagai layer transport, yang menghubungkan BTS di lokasi dengan BST (Base System Transifer) yang ada di Jakarta. Dari 81 site yang diberikan, 61 site sudah on dan 20 sisanya sedang dalam proses pengerjaan.

Mendirikan sebuah BTS di daerah pelosok dan belum tersentuh sinyal telepon terselip beragam kisah menarik. Mulai dari persiapan untuk menetap di wilayah yang terpencil hingga cara menangani community issue.

“Tantangan saat mengerjakan proyek VSAT Transmisi BTS Blankspot yang pertama terlintas di pikiran saya adalah, pasti adalah lokasinya sulit. Kemudian masyarakat di tempat yang kita tuju, belum tentu mendukung sehingga muncul community issue. Belum lagi dengan akses menuju lokasi yang dituju itu jauh,” ujar Imanuel JPN selaku Project Manger DTP.

Hanya bermodalkan nama kabupaten, desa, dan titik koordinat, para field engineer DTP bekerja keras membangun proyek VSAT Transmisi BTS Blankspot ini. Saling mendukung antara tim di lapangan dengan tim yang berada di Jakarta, koordinasi dengan pihak pertama yang harus selalu terbuka dan memegang komitmen adalah pegangan yang selalu dilaksanakan tim DTP dalam setiap pengerjaan sebuah proyek.

DTP Lakukan Empowering Society

Tidak hanya mendirikan infrastruktur, pengayaan sumber daya masyarakat, khususnya pemberdayaan penduduk setempat juga menjadi agenda tambahan di setiap proyek DTP yang berlangsung.

“Ketika mengerjakan proyek VSAT Transmisi BTS Blankspot di daerah daerah Bokondini, Tolikara, Papua, kepala desa tersebut sangat membantu kami dengan cara mengarahkan warganya untuk berpartisipasi,” jelas Ardi Nurdiansyah selaku supervisor VSAT.

Warga Bokondini yang pada awalnya tidak mengerti kehadiran tim DTP, menjadi lebih terbuka ketika mengetahui fungsi dari teknologi yang dihadirkan ini bisa membantu memudahkan mereka untuk melakukan komunikasi.

Dan DTP berbangga ketika bisa menyatukan kembali kepingan komunikasi yang sempat terhenti. Saat menjejakan kaki di daerah Jawalani, Tolikara, ada beberapa personel TNI AD yang sudah berbulan-bulan tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya.

Saat site tersebut sudah ‘on’ dan gawai bisa digunakan untuk menghubungi keluarga terkasih, ada keharuan yang melintas dan tangis yang pecah. Di sinilah kami, Care Team DTP merasa bangga bisa berkontribusi untuk menautkan komunikasi bagi semua anak bangsa. (M/R)