GSD Bantu ITI Kelola Kemandirian Data dan Sistem Informasi

iti

Real time mutlak dibutuhkan di masa revolusi industri ketiga ini, yang mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat. Dalam tahapan ini, ruang dan waktu semakin terkompresi. Tentunya hal ini tak bisa lepas dari kemajuan teknologi di dunia digital.

Kemajuan teknologi dan digital bukan hanya bisa dipakai di dunia bisnis. Di dunia pendidikan pun kini dituntut untuk lebih kekinian (real time)  dalam memberikan pelayanan. Salah satunya adalah aplikasi untuk portal akademik dalam mengelola akademik seperti pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), melihat nilai bagi mahasiswa dan bagi para pengajar bisa memanfaatkan aplikasi untuk memasukkan nilai dan persetujuan KRS.

Data-data yang terhimpun dalam server itu, tentu saja membutuhkan colocation Datacenter yang bisa diandalkan. Institut Teknologi Indonesia (ITI) adalah salah satu lembaga pendidikan yang mencoba menyesuaikan diri dengan revolusi industri ketiga ini saat berkerjasama dengan DTP dalam menggunakan layanan Datacenter Graha Sarana Data (GSD).

Institut Teknologi Indonesia didirikan pada tahun 1984 bernaung di Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI) yang diprakarsai oleh mantan Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie.  Gagasan ini muncul dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang pada saat itu untuk mengalami kelangkaan insinyur di Indonesia.

ITI sebagai institusi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tepat guna bagi masyarakat, mencoba menjawab tantangan pembangunan daerah dan nasional sesuai dengan visi mereka yakni sebagai Technology Based Entrepreneur University.

Yustina Sri Suharini, ST, MT selaku Direktur Pusat Data Dan Sistem Informasi didampingi oleh Winarso selaku Kepala Divisi Pusat Data dan Sistem Informasi ITI menjelaskan sebagai institusi pendidikan ITI ingin mandiri mengelola pusat data dan sistem informasi sendiri.

“Sudah saatnya kami mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam mengelola data dan sistem informasi yang kami miliki, selain SDM-nya kini tersedia juga kesiapan kami dalam mengelola Datacenter sendiri,” ujar Yustina saat Tim Care DTP di kampus ITI.

Setelah tak lagi menggunakan pihak ketiga, Yustina mengaku lebih merasakan langsung kinerja tim support DTP saat migrasi server dari Gedung Tifa ke Gedung Cyber. Pun saat mengalami gangguan, tim sales dan care DTP tak sulit untuk dihubungi.

“Pada saat mengalami gangguan, saya terus menghubungi Pak Bimo (Account Manager). Setelah mendengarkan keluhan saya, Pak Bimo mengarahkan ke bagian teknis. Saya senang dengan komunikasi yang langsung seperti itu dengan tim DTP,” tambah Yustina.

Winarso pun memberikan harapan dapat terus menjalin kerjasama dengan Dwi Tunggal Putra untuk mewujudkan cita-cita Institut Teknologi Indonesia yang ingin meningkatkan hasil pembelajaran dan keberhasilan siswa, dan memajukan penelitian dan inovasi. (M/A)