DTP Mitra BAKTI Bangun 3T

bp3ti

Rupinus Say tersenyum lebar saat menara VSAT berdiri dengan kokoh. Kepala Dusun Mangkau, Kalimantan Barat ini mengakui bahwa dengan adanya fasilitas BTS atas inisiasi Kementrian Kominfo, maka komunikasi dan penyebaran informasi tak lagi menjadi masalah.

“Dulu masyarakat kami sulit untuk berkomunikasi. Dusun Mangkau tidak terjangkau sinyal telepon apalagi internet. Pembangunan menara telekomunikasi dan VSAT di dusun kami sudah terwujud, sehingga kami akan dapat berkomunikasi dengan baik,” ujar Rupinus Say.

Bersinergi dengan upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur telekomunikasi dengan semangat ‘Indonesia Sentris’ dan ‘Menuju Masyarakat Informatif Indonesia’ yang menjadi visi dari Kementrian Kominfo, jalan menuju cita-cita tersebut setapak demi setapak mulai terealisasi.

Bukan perkara mudah untuk mewujudkan pemerataan akses informasi di negara yang terdiri dari 17 ribu pulau ini.  Kondisi geografis yang sebagian besar dipisahkan oleh lautan, jalan utama yang belum teraspal dan sinyal telekomunikasi yang belum merata adalah tiga hal besar yang menyulitkan untuk pemerataan teknologi informasi, meningkatkan perekonomian, memantapkan pertahanan dan keamanan, serta mencerdaskan bangsa melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Bahwa Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang mengakses telepon selular sebesar 142% dari total populasi (sumber: Osma Intelligence,04 2016) pada Januari 2017, adalah kemajuan yang signifikan. Sebab di tahun 2003, Indonesia merupakan negara yang berada di peringkat terakhir untuk pengadaan telepon tetap (fixed line) dengan rasio 3,6 per 100 penduduk, dan peringkat sembilan untuk telepon seluler dengan rasio 5,5 per 100 penduduk untuk di wilayah Asia dan Australia.

Atas dasar inilah pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kominfo akhirnya membentuk Kewajiban Pelayanan Universal yang disingkat KPU/USO :Universal Service Obligation / USO) yang dilaksanakan oleh Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi (BP3TI) di tahun 2005 yang pada saat itu masih bernama Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP).

Dana KPU/USO sendiri berasal dari dari PNBP operator swasta sebesar 1.25% (sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 7 tahun 2009).Sebelum mencapai angka pungutan sebesar 1.25%, para operator telekomunikasi hanya diminta sebesar 0,75% dari pendapatan kotornya (sesuai PP Nomor 28 Tahun 2005.

Dengan dana yang terhitung besar, lembaga yang dikepalai oleh Anang Latif ini tidak hanya membangun fasilitas Teknologi, Informasi dan Teknologi (TIK) di pedesaan tetapi juga menyediakan layanan telekomunikasi dan jaringan yang murah dan membentuk ekosistem jaringan jalur lebar di Indonesia. Lembaga ini juga aktif mengumpulkan segala kontribusi yang berasal dari operator swasta.

Mengusung semangat Nawacita, Proyek Palapa Ring, pembangunan Base Transcivier Station(BTS), akses internet, satelit dan broadcast adalah program-program yang akan mempercepat pemerataan akses internet di Nusantara.

Saat ditemui di kantor BAKTI di bilangan Kuningan, Lulu Hanum sebagai Kadiv Hukum&Humas BAKTI menjelaskan bahwa dalam ke depannya Kementrian Kominfo menginginkan satelit pemerintahan yang menggunakan teknologi through put yang bisa menjangkau wilayah-wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) dan wilayah perbatasan di INdonesia. Teknologi through put dipercaya bisa menjangkau wilayah-wilayah tersebut yang tidak terjangkau oleh sinyal telekomunikasi dan komunikasi.

“Road map BAKTI ke depannya akan bersinergi dengan Kementrian lain untuk mengembangkan program-program yang ada di Kementrian lain. BAKTI akan menginisiasi toll data, dengan membuat big data yang nantinya akan menampung semua data-data Kementrian lain, sehingga yang akan menjadi leading teknologi komunikasi adalah Kementrian Kominfo dan BAKTI yang akan men-support, ujar, Lulu Hanum.

Jembatan untuk menautkan kesenjangan sudah separuh jalan. Sejauh ini BP3TI telah mendirikan 252 site Base Transcivier Station (BTS) yang tersebar di daerah-daerah terluar, terdepan, tertinggal (3T).

Dwi Tunggal Putra Mitra Setia BAKTI

Ir. Sugeng Alifen adalah sang pemula dari tiap jengkal keberadaan Dwi Tunggal Putra hingga saat ini. Beliau pula yang merintis jalan kerja sama dengan BP3TI sejak tahun 2014.   DTP telah memenuhi proyek Akses Internet sebanyak 192 sejak tahun 2016 dan akan bertambah 45 site lagi. Untuk Proyek BTS sendiri, saat ini sedang berjalan pengerjaan 14 site dan 81 site akan dikerjakan oleh untuk di provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, NTT, Maluku dan Papua.

Menjadi salah satu mitra kepercayaan dari BP3TI yang kini kembali mengubah namanya menjadi Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan informatika (BAKTI) adalah jalan panjang yang berliku. Hubungan baik yang saat ini terjalin, tentu tak serta merta hadir begitu saja.

DTP tidak lagi memosisikan diri sebagai rekan bisnis atau vendor semata, tapi mencoba menjadi teman bagi BAKTI. Hal ini bertujuan untuk lebih memahami permasalahan yang tengah BAKTI hadapi, memberi solusi konkrit yang mereka butuhkan dan dapat mengover setiap permasalahan yang ada. DTP melakukan hal-hal ini karena memang memliki tujuan yang sama dengan BAKTI, yaitu pembangunan telekomunikasi yang merata di Indonesia.

“Adalah sebuah anugrah melihat DTP bergabung dalam program BAKTI. Banyak provider yang ada di Indonesia tidak hanya DTP, tapi yang menjadi Mitra Bakti bisa dihitung pakai jari dan DTP salah satu mitra yang memiliki kesamaan semangat visi dan misi dengan BAKTI yaitu memeratakan informasi,” tambah Lulu Hanum.

Beragam cerita hadir selama kerjasama DTP dengan BAKTI, salah satunya saat pembangunan BTS 2G di Kampung Anasi, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Penduduk setempat sempat melakukan penolakan karena merasa tidak memerlukan pembangunan tersebut.

“Selain tenggat waktu yang kadang terasa pendek, sebagian masalah di lapangan harus bisa diselesaikan dengan cepat dengan treatment  yang berbeda. Dalam kasus di Kampung Anasi, kami melakukan pendekatan personal dengan kepala suku di daerah tersebut sehingga akhirnya masalah bisa terselesaikan,” jelas Imannuel yang merupakan Project Manager DTP.

BTS 4G yang menggunakan VSAT DTP adalah langkah terbaru dari DTP untuk menapaki jalan panjang menuju pemerataan komunikasi di nusantara. Kami berkomitmen untuk terus berusaha menjadi mitra setia BAKTI. Seulas senyum dari masyarakat yang menikmati hasil proyek pembangunan komunikasi cukup menjadi semangat tambahan bagi personel DTP untuk bekerja lebih gigih lagi, dan kami menanti senyum dari Rupinus Say – Rupinus Say yang lain.