Akses Internet DTP Kikis Kesenjangan Digital

akses-internet

Sabtu sore (13/04/2019) di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Sukabumi, Jawa Barat, tampak lebih ramai dari biasanya. Kepala Desa Sirnarasa, H.Oman Sulaeman Sambas baru saja selesai memotong rumput yang telah meninggi. Tak jauh dari pintu masuk Kantor Desa, beberapa orang tengah merapikan puing-puing tembok yang runtuh karena gempa di Lebak Banten Juli tahun lalu.

Desa Sirnarasa berjarak  30 km dengan ibukota Kabupaten Sukabumi, Palabuhanratu. Topografi daerah ini bergunung dan berlembah, tidak mudah mencapai Sirnarasa yang berada dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Jalanan berbatu-batu masih mendominasi jalur menuju perkampungan yang berada di lembah.

Karena berada di lembah dan sulitnya akses menuju ke sana, maka penyebaran informasi menjadi tak merata. Kesenjangan digital yang dialami masyarakatnya ini diakui sendiri oleh Kepala Desa Sirnarasa.

“Sebelum ada internet bantuan Gubernur Jawa Barat,bersama Kementrian Komunikasi dan Informatika, masyarakat Desa Sirnarasa merasa terisolir dalam masalah komunikasi dan informasi,” ungkap H.Oman Sulaeman Sambas.

Desa Sirnarasa bersama dengan 600 desa di Jawa Barat lainnya adalah bagian dari program Desa Digital yang diinisasi oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang menggandeng Menkominfo dan mempercayakan DTP sebagai pihak penyedia infrastruktur dan jaringan.

Ridwan Kamil membuat Desa Digital sebagai sebuah ikhtiar untuk mewujudkan visi Jawa Barat sebagai provinsi digital di Indonesia yang membuka ruang komunikasi antara pemerintah dan masyarakat secara langsung sekaligus membuka akses ke dunia luar.

Program ini bertujuan untuk menyediakan akses internet di desa yang sebelumnya tidak memiliki koneksi internet sama sekali. Lebih utama, program ini untuk meningkatkan literasi masyarakat di berbagai bidang seperti pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Desa Digital diciptakan untuk memperkecil kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Dengan terbukanya akses informasi ke dunia luar, masyarakat bisa memanfaatkan jaringan dan konektivitas internet untuk mengakses konten pendidikan dan meningkatkan produktivitas,” kata pria yang kerap dipanggil Kang Emil.

Ridwan Kamil secara resmi meluncurkan program Desa Digital di Desa Puntang Kecamatan Losarang, Indramayu, pada 10 Desember 2018, untuk memanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa.”Hari ini kita tunjukkan ke dunia bahwa ada desa di Indramayu yang menjadi percontohan nasional tentang transformasi dari manual ke digital,” kata ia.

Pengaplikasian program Desa Digital di Desa Puntang berupa pemaksimalan teknologi untuk pengaturan waktu dan banyaknya pakan ikan lele dengan menggunakan gawai yang telah dipasang aplikasi. Diharapkan aplikasi ini bisa menambah panen menjadi 6 kali dalam setahun, jika biasanya hanya panen 3-4 kali setahun.

Menemukan Model Digitalisasi  

Sebelum Desa Puntang yang memaksimalkan hasil panen ikan melibatkan teknologi, Desa Lamahu yang terletak di Provinsi Gorontalo meraih predikat sebagai Desa Digital pertama di Indonesia.

Desa Lamahu di tahun 2017 telah mengembangkan Command Center berbasis Android dengan spektrum kedesaan. Hadirnya program ini tak hanya memberikan masyarakat untuk bisa mengakses internet secara gratis dengan akses wifi yang menjangkau 32 titik, tapi juga membantu urusan administrasi pemerintah daerah.

Lain halnya dengan pemanfaatan internet yang dilakukan oleh penduduk Desa Cibuntu, Kuningan. Setelah melakukan pivot sumber penghasilan dari desa agraris menjadi desa pariwisata, Desa Cibuntu menjadi salah satu percontohan desa yang mengedepankan sapta pesona wisata.

Pintu informasi yang telah terbuka, dimanfaatkan penduduk Desa Cibuntu untuk mengiklankan rumahnya di salah satu situs booking agent untuk memudahkan turis mancanegara mencari kamar untuk bermalam di desa yang pernah menyabet gelar desa wisata terbaik urutan kelima tingkat ASEAN tahun 2016 untuk bidang homestay.

Menkominfo yang diwakilkan oleh BAKTI telah menunjuk DTP sebagai pihak yang membangun infrastruktur akses internet di Desa Sirnarasa yang tersebar di 155 titik, mulai dari kantor desa, puskesmas hingga sekolah.

Minggu pagi (14/04/2019) masyarakat Desa Sirnarasa mulai menapaki jejak baru dunia analog dan dunia digital yang erat berkelindan. Peresmian sekaligus simulasi wifi gratis di kantor desa berlangsung dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari Gubernur Jawa Barat, Menkominfo, perwakilan BAKTI, pejabat kabupaten hingga perangkat desa dan tak ketinggalan DTP sebagai kontraktor infrastruktur dan jaringan.

“Tadi saya dengar warga di sini harus lari ke tempat yang lebih tinggi hanya untuk memperoleh layanan internet. Sekarang tidak usah, di kantor desa tersedia layanan internet wifi gratis silahkan digunakan. Kita siapkan layanannya,” kata Menkominfo, Rudiantara saat meresmikan layanan desa digital Sirnarasa.

DTP yang telah menjadi mitra BAKTI sejak tahun 2015 telah membangun lebih dari 800 lebih proyek baik Base Transmission Station (BTS) atau Akses Internet yang terajut dari Pulau Nias hingga Kiwirok, Papua.

“Satu hal yang diperhatikan dari pelaksanaan proyek Desa Digital ini adalah komitmen dan tenggat waktu. Seluruh tim dari DTP yang terlibat berhasil mengerjakan 155 site hanya dalam kurun waktu 6 hari,” terang Direktur DTP, Michael Alifen yang datang saat peresmian.

Kehadiran akses internet di Desa Sirnarasa tidak hanya berguna bagi perangkat desa untuk mengirim laporan ke pemerintah pusat, tapi juga menimbulkan ide bagi Didi, seorang pemuda setempat yang melihat potensi distribusi pertanian memaksimalkan akses internet gratis ini.

“Sirnarasa ini kan adanya di lembah ya, akses komunikasi sulit, jalan juga berbatu. Hal ini yang menjadi penghambat kami untuk bisa berkembang. Dengan adanya akses internet ini, saya bercita-cita untuk memotong jalur distribusi sehingga para petani bisa langsung menjual hasil panen langsung ke tangan konsumen,” terang Didi

Pemerintah Jawa Barat telah memetakan wilayah yang dibantu, Menkominfo telah menunjuk DTP untuk membangun infrastruktur berikut akses internet, Kepala Desa Sirnarasa  dan pemuda setempat mulai menemukan jalan untuk mengimplementasikan Making Indonesia 4.0 lewat pemanfaatan teknologi. Dan kolaborasi dari seluruh pihak yang akan mempercepat denyut digitalisasi d penjurui Indonesia.